Thursday, May 3, 2018

Chapter 32 - Takkan Ada Cinta Yang Lain.

The next morning I woke up around noon. Masih terbaring di atas katil aku merenung ke atas. Masih terbayang kemesraan Imran dan teman wanitanya semalam. Aku menarik bantal dan membenamkan mukaku ke atas bantal lalu menjerit sekuat hati. Kenapa aku ni....? Isn't it better to face him rather than mopping around like this? I don't know, what got into me.....selalunya aku tak pernah bersikap seperti ini. I am a fighter and I normally won't give up easily. Urgghhhh!!!!

Credit to MostlyJazzJKT and You Tube

Aku mula membaca messages dalam talipon bimbit aku satu demi satu......paling banyak dari Imran. Aku membalas message Imran.

Me : I have read all your messages. Just return the car to the security guard. I'm out of the country and not sure when I'll be back. Thxs.

Cukup buat masa ini. Aku bangun dan terus mandi.


Keluar saja dari bilik mandi aku mendapatkan talipon bimbitku untuk meminta Hamid datang mengambil aku. Nasib baik Hamid free dan dia akan datang dalam masa satu jam. Sempat untuk aku bersiap dan check-out dari hotel.
 
Seperti yang dijangkakan, Hamid sampai tepat pada waktu yang dijanjikannya. Itu yang membuat aku selesa dengan Hamid, .....always on time.
 
"Assalamualaikum Q, nak balik Cyberjaya ke?" Hamid asked as he looked at me through the rear view mirror.
 
"Hmmm.....Hamid drive dulu ya....tak kisah....mana-mana saja.....bagi saya masa sikit......", aku menjawab sambil scanning each messages dalam talipon bimbit aku.
 
"Mana-mana tu macamana Q.....round-round KL ya....?", he asked again.
 
"Ya.....round-round KL dulu....", I replied and my fingers stopped when I read Imran messages. He mentioned that he thought he saw me yesterday....
  
Imran asked why I did not answer any of his phone calls.....he wanted to return my car and see me. He misses me....Yeah righttt! I said to myself....
 
He practically left out about his lady friend.....huh!
 
Q, please return my calls or at least reply my messages.....he wrote on and on....
 
Are you alright? I have not heard any news from from since we came back from Bali. Are you angry with me?
 
Malas aku nak menghabiskan pesanan-pesanan dari Imran. Aku terus delete nombor Imran dari senarai contacts di WhatsApp. Padan muka! Aky mengeluh.....
 
"Hamid, you ada makwe...?", aku bertanya sambil memandang ke luar tingkap.
 
Hamid tersenyum, "Dulu adalah tapi kami dah break-off masa saya di tahun akhir....", he stopped.
 
"Maaf Hamid...., saya tak bermaksud ....", he cut me off....."Bukan salah sesiapa pun....mungkin tak ada jodoh agaknya....tapi apa yang saya dengar dari teman rapatnya, dia telah ditunangkan dengan sepupu dia...".
 
"Hamid, maafkan saya tak sepatutnya bertanya hal peribadi.", I apologized.
 
Hamid kept quiet. And so did I....
 
"Q? Ada masalah dengan Bro Imran ke?", he suddenly asked.
 
"Masalah? Mana ada.....saya dengan dia kawan saja....", I tried to deny.
 
"Bro Imran ada call saya malam tadi. Dia tanya kalau Q ada memerlukan khidmat Grab saya....", he explained.
 
I stared directly to Hamid through the rear view mirror. "Maaf Q, saya minta maaf sangat-sangat...", he apologized. "Saya rasa ada baiknya kalau Q bersemuka dengan Bro Imran.....saya dapat rasakan dia susah hati.", he added.

Aku masih diam membatu. Aku rasakan jantung aku bergetar dangan laju bila tiba-tiba tubuh sasa Imran muncul di depan kereta Hamid...


I raised my voice. "Shit! Imran...? No...I must be hallucinating.....(I tried to convince myself that I am just imagining things...)...Turn Hamid, turn...."

But Hamid did not budge. "Hamid, apa yang awak buat ni....? Kenapa Imran ada di sini....?". Tangan aku tercari-cari door lock untuk membuka pintu kereta...
 
"Q, eh...eh...eh...nanti dulu....", Hamid tried to stop me. "Nanti dulu Q, dengar dulu penjelasan dia. Bagi dia peluang.", he said.
 
"Hamid, awak tak perlu campur dalam urusan peribadi saya...ya....awak ingat awak tu siapa...?!!", aku memarahi Hamid. Aku dapat rasakan peluh sudah membasahi dahi dan tengkuk aku.
 
The next thing I know Imran got into the car. "Hamid, let's go...!", he instructed.
 
"Apa ni...!?! What's going on Imran.....", I yelled while I used my mighty force to open the car door again. When Hamid sped off I lean back and wiped off my nose and eyes. Imran past me a box of tissue. He didn't say a word. With his fingers, he slowly tucked my hair behind my ears. I froze.
 
"Hamid, tolong hantar kami ke Kenny Hills...Ini alamat rumah saya.", Imran said. Then he made a call.
 
"Assalamualaikum.....ini Imran....nanti boleh datang rumah saya? Saya dalam perjalanan pulang. Dalam setengan jam lagi saya akan sampai. Tolong sediakan bilik tetamu ya.....(he paused).....ya......(another pause) terima kasih.". I heard his conversation.
 
What is the matter with me. Am I paralyzed? I flipped my palms in and out. Nope they are perfectly fine...Tapi kenapa aku tak berdaya untuk melawan Imran? Felt like I've been hypnotized....
 
Quiet.....Silence.....No one said a word all the way to Imran's place. Hanya kedengaran desiran angin yang mencelah masuk melalui tingkap kereta. Terperangkap di dalam dua alam....

Upon our arrival the guard was already waiting. He instantly lock the gate behind us. Hamid stepped out and opened my door tapi aku duduk membatu.